haduhhhhhhhhhhh.......... hr ini saya bener" pusing.........
buad blog ga jd"
mana tgz skul banyag buangeddddddddddd
#pusing MODE ON
pusiiiiiiiiing
Senin, 23 Mei 2011
Diposting oleh
Ratri Sulih Pinasti
di
02.57
0
komentar
Label: curcol
STILLLLLL...........
Kamis, 19 Mei 2011
Novel Still... -- Esti Kinasih

Yang mau gue review adalah bukunya penulis favorite gue sedunia, Esti Kinasih. Gila, dia udah ada 6 novel, dan semuanya kereeeeeen banget! Yah, setidaknya keren buat gue. Buat yang nggak maniak teenlit, nggak tau deh. hehe
Nah, novel yang mau gue review adalah Still... yang terbit tahun 2006. Ketinggalan banget ya review buku 5 tahun lalu? Tapi nggak papa deh, masih cetak ulang terus kok sampai sekarang.
Jadi, Still... ini merupakan sequel dari novel Cewek!!! (novel Esti juga, yang terbit tahun 2005).
Menceritakan tentang cowok bernama Bima yang posesif banget. Apa yang gue mau, harus gue dapet, mungkin gitu sih ya prinsip hidupnya.
Bima ceritanya hobi naik gunung. Macho, ganteng, sama otoriter. Pemegang keputusan tunggal dan keras kepala. Pokoknya, juga nggak mau deh, yang namanya ngalah apalagi sama cowok.
Bima terkenal playboy. Cuma playboy-nya rata-rata nggak dipacarin. Cuma diajak jalan, terus kalau udah bosen, tinggal buang. Mantan (atau yang bukan mantan tapi ngerasa mantan Bima), rata-rata pada error setelah Bima putusin. Si A jadi pendiem lah, si B, nilainya merosot lah, inilah-itulah.
Tapi Bima nggak peduli!
Yang jadi inceran Bima terbaru adalah Fani. Sahabat dari pacar sahabat Bima, Rei. Saking deketnya sama Langen, pacar Rei, Fani selalu ngintilin Langen kemana-mana. Cuma, sebisa mungkin si Fani ini selalu jaga jarak sama Bima karena reputasi Bima buruk.
Cuma, karena jaga jarak itulah, si Bima malah merasa tertantang buat jadiin Fani pacarnya. Terus, walaupun Fani nggak bilang iya, si Bima udah mengumumkan ke semua orang, kalau Fani pacarnya.
Oke, itu sih sebenernya penggalan review novel sebelumnya. Cewek!!!
Kalau Still... begini ceritanya.
Fani akhirnya nggak tahan lagi mau pacaran sama Bima. Dia ngerasa, masa mudanya udah nggak cerah lagi pacaran sama cowok yang begajulan begitu. Walaupun Fani takut banget sama Bima yang punya profil anak gunung (badan gede, galak dll), Fani nekat minta putus.
Jelas si Bima nggak terima. Soalnya, Bima baru nyadar, kalau Fani satu-satunya ceweknya yang nggak suka sama Bima dan selalu ngelawan habis-habisan Bima. Makanya, tanpa sadar Bima sayang beneran sama Bima. hmmm...
Bima yang posesif, akhirnya melakukan hal nekat buat bikin Fani tetep jadi pacarnya. Yang bikin Fani jadi tertekan sampai akhirnya nggak muncul di kampus sampai sebulan.
Fani pergi, Bima jadi ngerasa sepi. Lama-lama, karena terjadi beberapa hal (nggak gue ceritain, ntar yang mau baca jadi nggak gregetan lagi), Bima akhirnya berusaha melepas Fani. Walaupun susaaaaaaah banget. Walaupun cowok itu harus sakit hari sesakit-sakitnya.
Saat Bima menyerah untuk nggak ngejar Fani lagi, Fani bebas. Free! Senang! Fani langsung PDKT sama cowok bernama Ferry yang cute dan berbanding terbalik sama Bima yang seenaknya.
Tapi ternyata, Ferry nggak seperti apa yang ditampilin di luar. Justru Ferry lebih buruk daripada Bima sekalipun. Kata Rei, "Gue ngomong ini bukan untuk belain Bima ya, Fan. Ini supaya lo bisa ngeliat masalahnya lebih kelas. Bima emang brengsek, Tapi dia nggak pake topeng. Semua kebrengsekannya terbuka. Toh cewek-cewek itu dateng juga. Jadi sebenernya yang nyakitin mereka ya diri mereka sendiri. Bima sama sekali nggak bisa disalahin. Lebih bahaya cowok model Ferry begitu. Cute, sweet, looks like a real gentlement, tapi begitu lo lengah sedikit aja....."
Fani patah hati. Saat itu deh, Fani dapet pencerahan dari Rei yang juga prihatin dengan keadaan Bima. Sebagai sahabat dari balita, Rei nggak tega ngelihat Bima yang ancur. Walaupun kelihatannya santai, tapi Rei bisa lihat Bima sedih banget. Bima jadi masang tato, ngerokok, buat jadiin pelarian hatinya. Tapi Bima tetep jaga diri untuk nggak minum, takutnya malah kalap.
Rei nyaranin, supaya Fani balikan sama Bima. Fani masih mikir-mikir. Masih takut. Cuma Fani nggak bisa bohong, gimanapun, se-otoriter-nya Bima, seegois apapun cowok itu, Fani nggak pernah masuk dalam kondisi dimana Bima ngelakuin hal-hal di luar batas kesopanan. Cowok itu masih menjaga, bertanggung jawab.
Setelah melalui proses panjang (yang seru banget), maka terciptalah ending yang sudah bisa ditebak. Tapi keren tetep sih. haha
Nah, segitu aja deh garis besar ceritanya. Yang kurang dari review di atas adalah masalah karakter. Esti Kinasih, seperti di buku-buku sebelumnya, menceritakan karakter sifat masing-masing tokohnya dengan sangat jelas dan nyata. Seperti di buku sebelumnya juga, Esti Kinasih menggunakan bahasa yang ringan, kadang ada selipan humor (yang nggak garing, karena mengalir aja. Nggak dipaksakan sama sekali), dan informatif.
Diposting oleh
Ratri Sulih Pinasti
di
01.07
0
komentar
Label: sinopsis novel faforitku
autumn in paris
Jatuh cinta pada saudara sendiri

Sebenarnya aku pengin ngasih bintang dua setengah tapi nggak ada pilihannya, jadinya aku pilih bintang dua saja, karena menurutku bintang tiga terlalu banyak. Sebelumnya perlu kusampaikan bahwa review ini adalah berdasarkan rasa dan seleraku saja, selaku penikmat novel. Jujur, aku tidak punya latar belakang ilmu sastra sama sekali, jadi review ini adalah subjektif dari aku sendiri.
Keinginan untuk menebak. Dari sebuah misteri. Yang menciptakan penasaran. Itu adalah benang merah yang aku tangkap dari novel kedua karya Ilana Tan ini. Novel pertamanya (juga masuk dalam genre metropop-nya Gramedia Pustaka Utama/GPU) bertitel Summer In Seoul, dikatakan ada sedikit kaitan antara novel ini dengan novel pertama itu. Hanya sedikit. Di awal cerita Ilana berusaha membuat kita menebak, mengapa ada seorang perempuan yang dipanggil-panggil oleh seorang laki-laki tetapi dia tidak menggubrisnya. Di sini, Ilana juga mencoba menyeret kita untuk bersabar mengetahui identitas lelaki tersebut. Dan menurutku ini sudah sangat umum di banyak novel sehingga kesan misterius tidak lagi didapatkan pada bagian awal novel setebal 265 halaman ini.
Bab-bab berikut terjalin dengan efek 'penasaran' yang dengan susah payah coba dibangun oleh penulis. Dari pertemuan tak terduga Tara (lakon utama perempuan) dengan Tatsuya (lakon utama laki-laki 1) yang kemudian berlanjut dengan perkenalan resmi mereka lewat perantaraan Sebastien (lakon utama laki-laki 2) dirangkai sedemikian rupa, berharap pembaca menebak apa yang berikutnya dapat terjadi.
Kelemahan 'efek penasaran' yang coba dibangun oleh penulis mulai terlihat ketika dengan mudah aku bisa menebak rahasia besar apa yang disimpan Tatsuya. Berikutnya juga gampang sekali ditebak mengapa Tatsuya sangat membenci Paris, mengapa akhirnya Tatsuya mencintai Paris, dan bagaimana kelanjutan hubungan Tara-Tatsuya. Dari sini aku dengan gamblang dapat menebak kemana alur akan dibawa oleh penulis. Satu kelemahan lain yang tampak adalah ending dengan mematikan salah satu karakter utama seakan tak lagi memberikan efek dramatis karena tema cerita yang kelewat sederhana menurutku. Yah, tema utamanya adalah kisah cinta dua saudara seayah yang tak saling mengenal yang akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa cinta mereka tidak mungkin dapat bersatu.
Aku sebenarnya mengharapkan bahwa salah satu karakter nekat, secara ekstrem melawan dunia dengan tetap memperjuangkan cinta terlarang tersebut. Tetapi sepertinya penulis tidak mau berkontroversi dengan membuat kedua karakter ikhlas menerima keadaan dan menyerahkan kepada takdir untuk menyelesaikan masalah mereka.
Diposting oleh
Ratri Sulih Pinasti
di
01.06
0
komentar
Label: sinopsis novel faforitku
kue.............
Kamis, 12 Mei 2011
Chocolate Cuppies ....

Bahan :
400 gram Margarin
350 gram Gula Tepung
12 Kuning Telur
8 Putih Telur (Kocok hingga kaku)
175 gram Terigu
75 gram Coklat
Vanili secukupnya7
5 gram Kismis ... (ibu pake coklat chips)
Cara Membuat:
Kocok Margarin, Gula Tepung dan vanili sampai tercampur rata kemudian masukan kuning telur satu per satu .... kocok hingga adonan mengembang dan pucat. Setelah itu masukan kocokan putih telur sedikit demi sedikit jangan sampai putih telur cair nya masuk karena bisa bikin cake jadi bantet ..... setelah itu masukan tepung terigu yang telah dicampur dengan coklat dan diayak sedikit demi sedikit.Setelah itu masukan adonan kedalam cups separo trus isi coklat chips ato kismis tutup lagi dengan adonan dan panggang dengan oven panas 160 derajat celcius kurang lebih 25 menit ....Setelah cake dingin baru di hias .....
Diposting oleh
Ratri Sulih Pinasti
di
00.44
0
komentar
Label: resep kue
kue coklat
Triple Choco Caramel Cake
Bahan- Bahan :
10 btr Telur
150 gr Gula
1 sdm Emulsifier
140 gr Tepung terigu
60 gr Cocoa Powder
75 gr DCC
100 gr Margarine cair
Chocolate Ganache
500 ml Fresh Cream
500 gr Dark Chocolate
50 gr Butter
Caramel syrup
100 gr Gula
50 ml air 1
100 ml air 2
cara membuat :
Cake
1. panaskan margarine sampai mencair, masukan DCC, aduk rata, dinginkan
dan sisihkan.
2. kocok telur dan gula hingga putih mengembang.
3. Tambahkan emulsifier.
4. Masukkan tepung terigu kedalam adonan.
5. Tambahkan kedalam adonan campuran margarine dan DCC, aduk rata.
6. Masukkan adonan kedalam loyang yang telah dialasi kertas roti.
7. Oven dengan suhu + 170oC, hingga matang.
8. Keluarkan dari loyang, dinginkan.
Ganache
1. panaskan fresh cream dengan api kecil, matikan api.
2. Masukan dark chocolate (iris kasar), butter aduk rata.
3. Dinginkan dan siap untuk dipergunakan.
Caramel syrup
1. Panaskan gula dengan air 1 diatas api (masak sampai menjadi caramel)
2. tambahkan air 2 kedalam campuran caramel tersebut, masak dan aduk sampai caramel mencair dan tercampur rata.Matikan api, dinginkan
Cara penyelesaian :
1. siapkan cake, belah menjadi 2 bagian.
2. siram kedua belah cake dengan menggunakan caramel syrup.
3. olesi bagian tengah cake dengan menggunakan ganache dengan ketebalan kurang lebih 1 cm. tutup dengan setengah bagian cake lainnya.
4. hias bagian atas cake dengan mempergunakan ganache, buah dan chocolate.
Diposting oleh
Ratri Sulih Pinasti
di
00.40
0
komentar
Label: resep kue
kue jepang
Resep Japanese Cheesecake by yasaboga
Campur & Ayak
50gr Tepung terigu serbaguna
50 gr Tepung Maizena
Bahan:
60 gr Mentega
250 gr Cream Cheese, biarkan pada suhu ruangan
120 ml whip cream
3 kuning telur
1 btr telur
2 sdt kurit jeruk lemon parut (biar gk amis hehehehe)
5 putih telur
1/8 sdt garam
125 gr gula pasir halus
1 sdt air jeruk lemon
Topping:
2 sdm selai apricot
2sdm air
Cara Membuat:
1. Siapkan loyang, alasi kertas roti olesi mentega. Pasang oven 150 derajat celcius.
2. Campurkan mentega, cream cheese dan whip cream dalam wadah. Didihkan dengan api kecil aduk hingga lembut, angkat dari api.
3. Masukan campuran terigu aduk rata. Masukkan kuning telur dan 1 butir telur, aduk rata. Masukan kulit jeruk lemon aduk rata sisihkan.
4. Kocok putih telur hingga berbusa, masukan gula dan air jeruk lemon sedikit-sedikit sambil terus dikocok sampai terbentuk kerucut2 tumpul (soft peak)
5. Tuang 1/3 adonan putih telur ke adonan cream cheese, aduk rata. Tuang campuran ini ke sisa adonan putih telur, aduk rata. Tuang adonan ini ke loyang, panggang dengan cara au bain marie kurleb 75 menit sampai permukaan matang, kuning keemasan. Keluarkan dari oven.
6. Setelah benar2 dingin, lepaskan cake dari loyang. Panaskan selai aprikot dan air, oleskan ke permukaan cheesecake.
Diposting oleh
Ratri Sulih Pinasti
di
00.36
0
komentar
Label: resep kue
cerpen
Rabu, 11 Mei 2011
Di Dusun Lembah Krakatau
Cerpen St. Fatimah*)Banjo berjalan gontai pelan-pelan di belakang emaknya. Burung-burung gagak hitam terbang rendah, berkoak-koak memekak. Di atas, langit yang damai tak menjanjikan sama sekali rasa aman.
Lewat baris-baris pohon jati di sepanjang jalan, si emak dan anak laki-lakinya itu dapat melihat lembah Krakatau yang melandai berombak-ombak. Tak mereka jumpai lagi sosok-sosok manusia yang berarak tak henti-henti mendaki seperti semut, tak peduli disambut oleh lingkaran awan tebal dan gumpalan langit tak berawan. Sebuah kabar burung tentang anak siluman telah memutus urat keberanian mereka.
"Banjo!"
Emaknya tiba-tiba berhenti.
Mendengar namanya dipanggil, anak itu terkejut. Bukan karena takut, melainkan karena firasat yang semakin dekat. Kenyataan yang akan datang tentang firasat itu bisa terasa sangat sakit, bahkan bisa juga mematikan.
"Kau lelah, Jo? Sepertinya Emak terlalu memaksamu berjalan hingga sejauh ini. Maafkan Emak, Jo."
Sesudah mengusap liur yang meleleh di sudut bibirnya, si emak menggandeng tangan Banjo, dan ucapnya lagi, "Ayo kita pergi ke pohon besar di sana itu. Kita buka bekal makanan kita. Kau lapar kan?"
Banjo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangguk saja, lalu mengekor patuh di belakang emaknya.
Tidak jauh dari situ tampak pohon besar yang rimbun daunnya. Di situ emak membuka buntalan kain sarung, sementara anak laki-lakinya selonjor, melenturkan otot-otot kakinya, dengan bersandar pada batang pohon besar itu.
"Banjo, duduklah dekat Emak sini."
Banjo merangkak menuju emaknya.
Emak mengeluarkan dua lembar daun jati tua. Ia melipat satu lembar daun jati itu sedemikian rupa di atas telapak tangannya, hingga membentuk semacam mangkok makan. Diisinya mangkok daun jati itu dengan nasi, gorengan ikan asin, dan sayuran rebus. "Kau ingin Emak menyuapimu?"
Banjo mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju.
Emak menyeringai senang, memperlihatkan sederetan gigi yang warna putihnya tak sempurna. Ia senang melihat anak laki-lakinya makan dengan lahap. Ia seketika lupa bagaimana anak-anak penduduk dusun sini melempari Banjo dengan tomat busuk dan batu kerikil. Sementara orang-orang dewasa melihat kejadian itu tanpa bereaksi apa pun selain tertawa. Apa yang lucu dari melihat seorang bocah laki-laki yang pasrah begitu saja ditawur bocah-bocah sebayanya, dilempari batu hingga mengakibatkan luka memar dan berdarah di sekujur tubuhnya? Apa semua lelucon tak pernah berperasaan?
Barangkali penduduk dusun sini meyakininya demikian. Mereka terpingkal tanpa rasa kasihan. Beberapa di antara mereka mencorongkan tangan di mulut dan meneriaki anak lelaki malangnya dengan kata-kata kasar. Mereka mengerumuninya dan menggiring ke luar dusun. Emak sudah hapal dengan perlakuan penduduk dusun ini; tanpa perasaan mendendam ia berbisik pada diri sendiri, "Barangkali mereka capek kerja ladang seharian, lalu mereka mencoba mencari hiburan."
Emak dengan sabar dan telaten membesarkan hati putra semata wayangnya itu. Tak ada yang benar-benar membuat hatinya meluap kegembiraannya, selain ketika bisa melihat wajah Banjo tampak tersenyum sewaktu tidur. Dalam pikirannya, senyum Banjo sewaktu tidur itu berarti segala-galanya. Leluhurnya pernah bilang, jika di pertengahan tidurnya seorang anak mengigau atau menjerit-jerit, itu artinya ada bayangan hitam yang menempel pada si anak. Dan emak tak mau bayangan hitam itu satu kali saja menempeli putra tunggalnya.
Banjo sudah lelap di pangkuan emaknya. Sementara emak mulai tak kuasa menghardik rasa kantuknya.
Dusun yang bermandikan cahaya kekuningan matahari menghilang di kejauhan, berangsur-angsur digelapkan oleh kabut petang musim penghujan. Tapi musim penghujan bukan halangan besar bagi penduduk dusun untuk mencari nafkah. Karena mereka percaya Hyang Air dan Hyang Angin telah mereka buat kenyang dan senang hati dengan upacara, tumbal, dan sesaji. Kepercayaan itu juga yang membuat emak dan Banjo terusir dari dusun itu.
Semuanya seperti berputar kembali. Kaki langit menggenang dalam kubangan kuning kemerahan. Jangkrik-jangkrik mulai menghela komposisi kerikannya. Satu-dua burung hantu menyembulkan kepalanya dari lubang sarangnya, membawa badannya yang buntal ke tengger pohon yang paling tinggi --hampir menyundul dagu bulan. Dan hewan-hewan malam lainnya pun serentak bergerilya ke sebalik lubang-lubang amat gelap.
Emak pulang larut malam dari rumah Wak Nardi dengan berbekal obor bambu di genggaman tangannya. Malam itu tak seperti malam-malam lalu. Amat gelap, amat dingin, amat mencekam. Kesiur angin membuat nyala obornya bergetar bergoyang-goyang selalu. Kedua belah matanya beberapa kali merem-melek, menyiasati lesatan uap kabut yang menggores jarak pandangannya.
Tapi, tiba-tiba kabut itu dikejapkan cahaya kilat --dan sungguh mengejutkan. Begitu ganjil kedatangan kilat itu. Kini yang dilihatnya bukan lagi kepulan kabut yang mengendap-endap lambat menyergap, tapi semacam gumpalan asap tebal yang mirip kepala raksasa yang bertonjol-tonjol menyeramkan.
Sekejap, kilat menyabet terang membelah langit. Di ujung jalan berbatu di sebelah barat, dari tengah-tengah sepasang pohon asem yang tegak kekar di kanan-kiri badan jalan muncullah bayangan sosok tubuh yang setindak demi setindak menuju ke arahnya, tapi hilang-hilang nyata dalam sabetan-sabetan cahaya kilat. Betapapun emak berusaha dengan menajamkan sorot mata kuyunya yang bernaung dalam kecekungan lubang matanya, sia-sia saja ia mengenali wajah tubuh itu. Tapi jelas, dari gerak-gerik sosok tubuh asing yang sedang menuju ke arahnya itu adalah sosok perempuan.
Hatinya bergetar, berdegup-degup tak karuan. Terus terang emak sedang ketakutan. Dinantikannya sampai sosok itu melontarkan setidaknya satu patah kata lebih dulu. Sungguh pun diketahuinya kecil kemungkinannya sosok itu adalah orang dusun yang dikenalnya, tapi entah mengapa ia masih mau berdiri memaku menunggu sosok tanpa wajah itu menegurnya.
Hingga….akhirnya sosok berwajah lembut nan cerlang itu tersenyum padanya, bersamaan muncul lingkaran cahaya terang memusar lalu memancar --begitu seterusnya-- di belakangnya. Cantik, sungguh cantik. Dua belah mata yang berbinar tegas, meninggalkan sorot yang menggores tajam setiap memandang. Bibirnya menggumpal padat berisi dan basah mengkilap. Kulit wajahnya halus sempurna dan seputih kapas. Wajah itu sungguh bercahaya menggetarkan dada dan menyejukkan hatinya, sampai-sampai mulut emak menganga. Beberapa kali ia pun menghela napas, menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara balas tersenyum balik. Ia berubah seperti anak kecil yang tengah mendapati sebatang kembang gula yang tiba-tiba tergenggam di kedua tangannya.
Bau harum menusuk hidung emak. Bau harum yang mengepul dari kibasan jubah panjang sosok makhluk cantik itu. Ya, makhluk cantik, hanya sebutan itu yang terlintas di hatinya. Ia yakin sosok di hadapannya itu bukan satu dari bangsa manusia seperti dirinya. Malaikatkah? Atau bangsa jin? Ia belum pernah berjumpa dua bangsa ciptaan Hyang itu sepanjang sisa-sisa rambut ubannya yang memutih kapas. Jadi ia tak bisa mengatakan dengan pasti, apalagi teka-teki, dari bangsa yang mana sosok makhluk di hadapannya itu. Ia hanya bisa mengatakan makhluk itu cantik, maka itu makhluk cantik.
Lama. Malam tambah hening, tambah senyap, tambah penuh tanya. Tak kelihatan lagi kejapan-kejapan kilat yang berseliweran membelah langit di atas. Sekonyong-konyong meluncur dari sela bibir makhluk cantik itu, tapi bibir padat berisi itu tiada bergerak, terdengar begitu saja, kata-katanya sangat jelas dan berbunyi, "Susui jabang bayiku hingga datang malam purnama kedua puluh tujuh…."
Serasa emak dikepung anak buah malaikat maut, linglung tak tahu apa yang mesti diperbuat. Jantungnya bunyi berdegup-degup, kedua belah matanya terus berkedip-kedip. Jari-jarinya gemetar ketika menepuk-nepuk kulit pipinya yang kisut-kendur. Suara bicara sosok itu yang menggema per kata-kata, di telinganya persis wangsit Hyang, memekakkannya hingga kemerotak persendian di sekujur tubuhnya kalah beradu dengan kemerosak gesekan dedaun yang diterjang angin amat kencang, amat mencekam.
Belum genap emak menghilangkan kekalutannya, tiba-tiba sosok mahacantik itu melesat dekat ke arahnya. Hingga ia harus memejamkan matanya rapat-rapat, dan hanya dua cuping telinganya yang waspada. "Akan kuambil kembali ia bilamana purnama telah sempurna….!" Hanya beberapa detik setelah gaungnya suara kakupak dari arah sawah penduduk di kanan-kirinya menghampiri gendang telinganya. Hanya beberapa detik setelah angin kencang tiba-tiba tenang, jalanan berbatu itu kembali gelap gulita. Nyala obor di tangan emak gemetar lamban.
Setelah peristiwa itu, esok paginya emak mengalami kesakitan dari ubun-ubun hingga kuku-kuku jemari kakinya. Kepalanya lebih pening dari sakit pusing biasa. Tubuhnya gemetar menggigil lebih hebat dari akibat kedinginan biasanya. Perutnya lebih tertusuk-tusuk ketimbang rasa lapar biasa. Tulang-tulangnya lebih rapuh daripada pengemis tua renta yang terlantar.
Orang-orang dusun dan sekitarnya memutuskan agar emak dan suaminya dipencilkan ke hutan di perbatasan dusun. Mereka percaya bahwa suami-istri "aneh" itu telah dikutuk. Makhluk cantik yang konon mencegat emak pada malam ganjil itu adalah jin yang menjelma dalam wujud malaikat samarannya. Bahkan kepala sesepuh dusun angkat tangan mengamini mereka.
Perut emak seperti perempuan hamil. Ia pun merasakan kesakitan-kesakitan yang lazim dialami oleh kebanyakan perempuan hamil. Emak memang hamil. Sementara minggu bergulir menjadi bulan. Dan ketika bulan menginjak putarannya yang kesembilan, emak melahirkan seorang bayi laki-laki. Tanpa bantuan dukun, tabib, atau orang pintar mana pun. Bayi laki-laki itu diberinya nama Banjo.
Banjo tumbuh sehat, itu pasti. Emak dan suaminya bahagia. Pun orang-orang dusun terimbas bunga rasa itu, meski dengan air muka yang berbeda. Melihat Banjo sama saja berdiri menonton satu atraksi "makhluk aneh" di sirkus pasar malam. Mereka membiarkan Banjo bertingkah. Bocah itu tak sadar, kegirangan penduduk dusun jauh lebih menyakitkan daripada tersengat ribuan lebah pekerja. Setiap kali orang-orang dusun terbahak, setiap kali itu pula kerongkongan emak semakin tercekat.
Hingga usia Banjo dua tahun lebih, hingga hari yang dijanjikan itu tiba, emak mendapat mimpi aneh. Dalam mimpi itu, ia melihat Banjo menjadi santapan makhluk serba nyala merah dan meruapkan hawa sangat panas. Tak ada yang sempat diingatnya, kecuali dengung suara menggelegar dari arah makhluk ganjil itu. "Aku minta anakku dari rahimmu….!" Emak tersimpuh lemas di samping bujur kaku suaminya yang meradang seperti orang sekarat.
Sepeninggal suaminya, masih ia ingat ia tak kuasa menolong Banjo yang meronta-ronta waktu itu. Matanya merah. Kedua tangannya mencengkeram jeruji-jeruji kayu, membuat kurungan kayu itu terguncang cukup keras. Saat itulah seorang anak kecil ingusan berlari menghambur ke halaman rumahnya ketika mendengar genderang dipalu di jalanan dusun. Peristiwa yang jarang terjadi. Anak kecil itu berlari membawa badannya yang tambur tanpa baju. Matanya bersinar-sinar memandangi arak-arakan para lelaki dusun sambil memalu bekhudah2 yang bertabuh hingar. Biji mata anak kecil itu mengikuti arakan. Serombongan laki-laki tanpa baju yang wajah dan tubuhnya dicoreng-corengi arang hitam mengarak seorang anak manusia dalam kurungan kayu yang ditandu. Mereka menuju ke puncak bukit di mana bertahta sebuah pohon kekar, mahabesar, dan menjulang tinggi. Di pelataran bawah pohon itulah Banjo dibaringkan di atas meja batu berlumut.
Banjo harus menjalani prosesi kurban kepada Hyang. Tubuh bocah laki-laki itu ditelanjangi. Kedua tangan dan kakinya diikat di masing-masing sisi meja batu. Setelah itu, seorang tetua ritual memercikkan air yang diyakini bertuah menghilangkan kekuatan jahat yang menghuni jasad seseorang, sambil merapal mantra.
Ingatan emak menjadi gelap. Tapi tak segelap malam ini. Tapak tangan kasar emak tak lepas mengusap kepala Banjo. Hampir empat belas malam berlalu, terhitung sejak malam ia "mencuri" tubuh kapar Banjo, mereka berpindah-pindah tempat perlindungan. Keduanya sebenarnya tidak ingin sembunyi dari kejaran orang-orang dusun. Emak sungguh berhasrat untuk meyakinkan mereka bahwa Banjo benar-benar anak yang lahir dari mulut rahimnya, bukan anak tumbal Hyang yang dipinjamkan di rahimnya. Tapi mereka tidak pernah bisa menerima keyakinannya itu. Karenanya ia dan Banjo harus berlindung dari piciknya kepercayaan mereka pada sesuatu yang menggariskan durhaka tidaknya manusia di hadirat Hyang.
Hampir sepertiga malam. Makhluk-makhluk yang dinapasi misteriusnya malam, makin menggeliat dalam kehitaman rimba bumi. Tak peduli sebuah tugas mahamulia telah memampatkan kerongkongan orang-orang dusun yang, kebanyakan para lelakinya, bermalam-malam membidik dua manusia paling dikutuk: Banjo dan emaknya. Meski membuat ladang-ladang garapan mereka terbengkalai, itu tak apa! Yang penting bagi mereka, dusun mereka bersih dari manusia-manusia durhaka, yang mengingkari wasiat Hyang.
Waktu bergerak lambat bagai geliatan pesolek di mata ratusan laki-laki dusun yang tersebar di tiap-tiap sudut batas dusun, juga di tempat-tempat gelap terpencil. Dan, dua buronan mereka telah menjadi begitu terkutuk di mata mereka, karena membuat tubuh mereka memagut dinginnya malam demi malam tanpa kehangatan dari napas sengal perempuan-perempuan mereka. Membuat biji mata mereka nyaris melesat dari liangnya. Membuat darah mereka mendidih, mengerjat-ngerjat sesekali, seperti dibakar ubun-ubun mereka. Lagi-lagi salah satu dari mereka geram.
"Haram jadah! Aku sudah muak! Terserah laknat Hyang kalau dusun ini masih membiarkan dua manusia terkutuk-Nya itu hidup, bahkan mungkin bisa lebih lama dari hidup kita semua. Aku tak peduli. Persetan! Bukankah Dia juga yang menghidup-matikan mereka?"
Persis, belum habis satu kali kedipan mata, setelah laki-laki dusun yang geram itu memberondongkan kalimat umpatannya, libasan petir sekonyong merobek angkasa yang gelap tak berbintang. Menghamburkan ratusan laki-laki dusun dari pos-pos penjagaan mereka, semburat tunggang-langgang, seperti sekawanan semut yang baru saja diobrak-abrik sarangnya oleh moncong trenggiling. Cambuk-cambuk petir itu mengoyak-moyak kesadaran mereka. Semua terjadi seperti dalam murka yang dahsyat.
***
Setelah yakin melelapkan Banjo di atas tumpukan daun-daun lebar dan reranting kering di sisinya, emak bangkit. Melangkah terbungkuk-bungkuk menuju mulut gua kecil yang tak sengaja diketemukannya persis ketika libasan petir pertama, libasan paling kilat. Emak memandang saja ke kejauhan. Petir mencekam. Kesiur angin menegakkan bulu kuduk.
Hingga…hingga sepertinya emak melihat kelebat sinar putih. Tinggi dan besar. Mendekat…Mendekat…Lalu melampaui diri tegaknya di tepi mulut gua. Melingkari tubuh Banjo yang meringkuk lelap.
Tak ada perlawanan. Tatapan emak telah menjadi begitu hampa. ***
Catatan:
1 Yakni bebunyian dari bambu untuk menghalau burung di ladang.
2 Alat musik seperti terbangan, namun dalam bentuknya yang lebih besar.
*) Cerpen ini merupakan pemenang kedua (tak ada pemenang pertama) lomba cerpen Krakatau Award 2005 yang diadakan Dewan Kesenian Lampung, yang diumumkan Agustus lalu. St. Fatimah adalah cerpenis Surabaya. Selain cerpen, lulusan Sastra Inggris Unair itu juga menulis puisi, dan esai sastra-budaya. Dia juga menjadi editor dan penerjemah freelance.
Diposting oleh
Ratri Sulih Pinasti
di
00.22
0
komentar
Label: cerpen putu wijaya
Simpang Ajal
Simpang Ajal
Cerpen Satmoko Budi SantosoSELESAI sudah tugas Montenero. Karenanya, kini ia tinggal bunuh diri. Bunuh diri! Itu saja. Betapa tidak! Ia telah membunuh tiga orang itu sekaligus. Ya, tiga orang. Santa, orang yang dengan serta-merta memenggal kepala bapaknya ketika bapaknya menolak menandatangani selembar kertas yang berisi surat perjanjian untuk terikat dengan sebuah partai. Lantas Denta, yang ketika pembunuhan itu terjadi berusaha membungkam mulut bapaknya agar tidak berteriak, serta Martineau yang mengikatkan tali pada tubuh bapaknya agar bapaknya tak bergerak sedikit pun menjelang kematiannya. Karena itu, sekarang, Montenero sendiri tinggal bunuh diri!
"Selamat malam, Montenero. Sebaiknya kamu kubur dulu ketiga mayat itu baik-baik! Setelah itu, terserah!" ucap batin Montenero, meronta.
"Ya, kubur dulu! Lantas, selamat tinggal!" sisi kedirian batin Montenero yang lain menimpali.
Sesungguhnya Montenero memang tidak perlu menjumput beragam kebijaksanaan untuk sesegera mungkin mengubur mayat-mayat itu. Toh memang, tugas pembantaiannya telah usai. Dan dengan sendirinya, dendam yang bersemayam di dalam dirinya lunas terbalaskan.
"Tetapi, semestinya engkau mempunyai cukup rasa kemanusiaan untuk tidak membiarkan mayat-mayat itu menggeletak begitu saja karena kau bunuh! Kasihan tubuh mereka menggeletak! Semestinya jika dengan cepat mereka menjadi makanan belatung-belatung menggiriskan di dalam tanah. Bukan menjadi makanan empuk bagi lalat-lalat hijau!" Belati, yang telah menikam dada Santa, Denta, dan Martineau masing-masing sebanyak enam kali, yang sepertinya sangat tahu berontak batin Montenero, ikut angkat bicara.
Montenero menghela napas. Menggeliat.
"Ah, benar. Sudah semestinya. Sekarang, engkau harus bisa membebaskan pikiranmu dari angan-angan tentang balas dendam. Ingat, ketiga mayat itu telah menjadi seonggok daging yang tak berarti. Harus dikubur! Engkau harus mengubah pola pikir yang begitu konyol itu, Montenero," cecar sebilah Pedang, yang rencananya ia gunakan juga untuk membunuh, tetapi Santa, Denta, dan Martineau ternyata cukup memilih mati cuma dengan sebilah Belati.
"Oh ya. Ya. Aku ingat lagi sekarang. Engkau harus mempersiapkan banyak keberanian agar kau menjadi tidak gagu dalam bersikap. Jangan seperti ketika kau akan membunuh! Kau hunjamkan diriku ke dada ketiga mayat itu dengan gemetar. Sekarang, untuk menguburkan ketiga mayat itu, tak perlu ada denyut ragu yang berujung gemetaran badan, desah napas memburu, suara terengah-engah, dan keringat dingin yang keluar berleleran. Semua itu harus diubah. Dengan segera!"
Montenero melirik jam tangan. Kurang tiga puluhan menit kokok ayam bakalan meletup kejut. Ia menghapus keringat dingin yang perlahan-lahan tapi pasti mulai membanjiri muka dan tangannya.
"Cepat lakukan! Keberanian telah datang dengan sendirinya. Lakukan!"
Angin pagi mendesir. Jam tangan terus berdetak. Montenero pucat. Lunglai. Apa yang dikatakan oleh Belati dan Pedang itu ada benarnya. Tak ada kebijaksanaan lain menjelang pagi hari itu kecuali penguburan. Tentu saja, penguburan dengan segala kelayakannya. Ada dupa, bunga, kain pembungkus mayat, dan pastilah keberanian. Untuk yang terakhir, soal keberanian itu memang sudah sedikit dimiliki Montenero. Tetapi, untuk dupa, bunga, dan juga sesobek kain pembungkus mayat? Atau, pikiran tentang sesobek kain pembungkus mayat sungguh tak diperlukan lagi?
"Ah, begitu banyak pertimbangan kau! Ambillah cangkul! Gali tanah yang cukup untuk mengubur ketiga mayat itu sekaligus. Cepat! Tunggu apa lagi, ha?! Ayo, berikan kelayakan kematian kepada Santa, Denta, dan Martineau. Setidaknya, agar ruh mereka bisa sedikit tertawa di alam baka sana. Cepat Montenero! Waktu tinggal sebentar! Masih ada tugas-tugas lain yang harus kau panggul untuk mencipta sejarah. Sejarah, Montenero! Jangan main-main! Cepat! Ayo, dong. Cepat!!!"
Montenero diam. Terpaku. Ia sebenarnya memang tidak perlu mempertimbangkan apa-apa lagi kecuali segera mengubur ketiga mayat itu serapi mungkin, agar paginya tidak sia-sia karena dikorek-korek anjing. Lantas, selesai! Sejarah baru tergores. Bapaknya yang mati sangat mengenaskan dengan kepala terpenggal dari tubuhnya, terbalas sudah. Meskipun kematian Santa, Denta, dan Martineau tidak sempurna seperti kematian bapaknya, tetapi setidaknya mati. Itu saja. Karena hanya sisa keberanian itulah yang dimilikinya. Kebetulan memang juga mati, bukan? Tuntaslah cerita ibunya yang selalu membekas dalam ingatan dan membuatnya selalu berpikir dan bersikap semirip orang sableng.
Montenero memutuskan mengambil cangkul. Belati dan Pedang tertawa. Membuat Montenero kembali gundah, berada dalam sangkar kebingungan. Keringat berleleran lagi dari sekujur tubuhnya. Tangannya kembali gemetar. Dengan berteriak sekeras mungkin, Montenero membanting cangkul yang sudah tergenggam kencang di tangannya. Berarti keberaniannya sedikit hilang, bukan? Bahkan barangkali hilang sama sekali? Belati dan Pedang kebingungan. Keduanya pucat pasi. Motivasi apa yang mesti disuntikkan untuk membangkitkan kesadaran keberanian Montenero menjelang matahari terbit?
"Aku tak mampu lagi melakukan apa-apa. Aku telah menuntaskan tugasku. Aku telah mencipta…. Uh…. Semestinya kau tak menghimpitku dengan hal-hal kecil yang justru akan menjebakku pada rasa bersalah semacam ini!" dengan suara penuh gemetar, seolah dicekam oleh ketakutan entah apa, Montenero angkat bicara.
"O…. Kau menganggapnya hal kecil, Montenero? Harusnya aku tadi menolak untuk kau gunakan membunuh jika kau menganggap penguburan adalah sebagai hal yang kecil, remeh. O…. aku bisa saja mogok untuk membunuh bila akhirnya kau malah bimbang sikap semacam ini! Kau tahu, Montenero. Aku bisa balik mengubah keberanianmu untuk membunuh. Aku bisa tiba-tiba saja menikam dadamu sendiri di depan Santa, Denta, dan Martineau. Bangsat! Anjing, kau!!!"
Montenero terpaku. Suasana di sekitar tempat pembantaian itu merayap senyap. Montenero berulang-kali blingsatan. Montenero terus-menerus mengusap keringat yang berleleran membasahi sekujur wajah. Dan detik terus saja berdetak. Sesekali ia garuk-garuk kepala sembari berjalan mondar-mandir. Belati dan Pedang cuma memandangi saja. Bisa jadi, Belati dan Pedang memang sudah kehabisan kata-kata untuk memotivasi Montenero. Sesekali dilihatnya mayat Santa yang terbujur kaku, Denta yang terkapar melingkar bagai ular, dan Martineau yang jika diperhatikan secara jeli ternyata malah tersenyum di puncak kenyerian kematiannya.
"Bagaimana, Montenero? Bagaimana? Aku masih sanggup membikin keberanian buatmu. Belum terlambat, dan tak akan pernah terlambat. Aku masih bersabar bersama Pedang."
"Bagaimana?" Montenero mengusik tanya kepada dirinya sendiri.
"Terserah!"
"Bagaimana, Belati?"
"Terserah! Bagaimana dengan kamu, Montenero? Masih sanggup kau mendengar kata-kataku? Ok. Engkau masih bisa bekerja dengan cepat menanam ketiga mayat itu baik-baik. Ambillah cangkul itu. Keduklah tanah segera. Kuburkan mereka senyaman mungkin. Ah, bulan yang sebentar lagi bakalan angslup itu juga pasti merestui dan memandangimu dengan rasa puas. Barangkali, ia bakalan memberi ucapan selamat kepadamu. Kenapa engkau mesti terjebak pada rasa ragu? Ayo, aku senantiasa berada di belakangmu!"
Aih, ayam telah berkokok bersahutan. Meskipun ayam baru berkokok, keadaan di sekitar tempat pembantaian itu sudah cerah. Udara meruapkan kesegaran. Montenero terlambat. Ia belumlah membuat perhitungan-perhitungan untuk bergegas menyuruh Belati agar mau menikamkan diri ke dada Montenero yang kini telah disesaki gebalau bingung, ketololan, amarah, dan entah apa lagi, juga entah ditujukan buat siapa lagi. Montenero betul-betul lunglai, lenyap keberanian, tercipta goresan sejarah yang entah baru entah tidak. **
Diposting oleh
Ratri Sulih Pinasti
di
00.19
0
komentar
Label: cerpen putu wijaya


